Setelah Tujuh Tahun

source photo: dreamstime.com

Pagi ini sudah kaurencanakan dengan saksama. Sejak tujuh tahun yang lalu, ketika kau mengetahui bahwa ciuman kekasihmu di purnama yang gerimis itu adalah saat terakhir yang bisa kausimpan sebagai kenangan tentangnya. Tak ada yang bisa menduga, baik kau maupun kekasihmu, bahwa malam itu adalah saat terakhir kau bertemu dengannya. Karena keesokan harinya ketika kau berpisah dengannya di bandara, kau tak akan lagi bisa menemuinya.

Setiap hari kemudian, kau masih mengingat betul setiap urutan hari itu. Pagi itu kau terbangun dengan dada yang hampir meledak penuh kebahagiaan ketika dengan mata yang masih mengantuk, kau terbangun dengan ciuman lembut kekasihmu dan kaulihat kekasihmu menyentuhkan sekuntum mawar merah ke hidungmu. Kejutan romantis yang tak pernah gagal membuat wajahmu tersipu kemerahan.

Dan sisa hari itu pun kalian lampaui dengan sebuah percintaan yang memang kalian niatkan dengan tulus menjadi sebuah kenangan yang seharusnya indah namun di kemudian hari hingga tujuh tahun setelahnya, tak lebih dari sebuah kepahitan yang membuatmu kerap terbangun di malam hari dengan rasa perih di ulu hati dan pening di kepala yang mendorongmu semakin hari berharap pada mukjizat sebutir prozac.

Justru yang membuatmu semakin mengingat malam terakhirmu dengannya bukanlah makan bersama yang selalu diselingi dengan kedua tangan kalian yang bertaut, atau bagaimana dia dengan gemas menciumi pipimu yang gembil. Melainkan malam itu, kau mendapati kekasihmu demam tinggi hingga kau menangis karena kau begitu khawatir. Kau pun akhirnya memutuskan tak mendengarkan seruan kekasihmu yang mencegahmu untuk meninggalkannya sendirian di kamar hotel. Di malam yang gerimis itu, kau pergi ke apotek terdekat untuk mencari parasetamol untuk menurunkan suhu badannya. Kau pulang dalam keadaan kuyup, tapi kau tak memedulikannya, karena kau segera memaksa kekasihmu untuk meminumnya. Sambil menunggu obat itu bereaksi, kau terlelap kelelahan malam itu sambil memeluk kekasihmu dalam posisi setengah terduduk di kasur, sementara kepala kekasihmu bersandar di dadamu. Tak kaupedulikan pegal dan berat di dada dan bahumu menyangga tubuhnya, karena kau hanya bisa berharap dengan cara itu setidaknya ia bisa berkeringat dan membuat demam tubuhnya berkurang. Sambil terpejam, kekasihmu berbisik, “Seharusnya kau tak usah sekhawatir ini karena aku demam seperti ini lebih karena aku tak kuat memikirkan bahwa besok kita kembali berpisah.” Kau lebih memilih diam, karena kau tak ingin membiarkan kekasihmu bertambah banyak berpikir macam-macam jika kau menanggapi kekhawatirannya. Dari kasur, kau melihat purnama begitu pucat dan tempias di tengah gerimis yang turun sejak senja. Malam itu sebelum kekasihmu terlelap, ia mengucapkan sebuah janji. “Tunggulah aku hingga tujuh tahun lagi.”

Setelah hari itu, kau merasa secuil demi secuil kisah hidupmu tak lagi relevan untuk dijalani. Bahkan oleh pekerjaan demi pekerjaan yang kaulakukan tanpa pernah mengeluh, kesal, marah, atau bahkan melelahkanmu. Kau bahkan mencari rasa lelah itu, karena kau tak lagi bisa mengingat kapan kau bisa tertidur tanpa harus merasa khawatir akan kerinduan yang membuatmu ingin menghantamkan kepalamu ke dinding.

Sepekan setelah kau mendapati bahwa kau tak akan lagi bisa menemui kekasihmu, kau mulai rutin mendatangi temanmu yang membuka klinik psikoterapi untuk meminta resep obat-obat penenang yang semakin lama semakin hari bertambah dosisnya. Beberapa tahun kemudian setelah temanmu akhirnya menyerah untuk membuatmu berhenti dari resep-resep obat yang ditulisnya, ia hanya bisa membiarkanmu melakukan rencana yang kau pikirkan untuk dilakukan setelah tujuh tahun terakhir kali kau bertemu dengan kekasihmu.

***

Ada suatu kisah yang dipercaya oleh orang-orang dari kota asalmu, tentang sebuah tempat di gunung di kotamu. Tempat itu konon hanya bisa dicapai oleh mereka yang memiliki sebuah janji yang dipegangnya dalam hati tanpa pernah diucapkan kepada siapa pun. Ia cukup mendatangi batas tempat itu, dan kemudian menghampiri sebuah pohon besar yang sudah bertahun-tahun lamanya tumbuh di tempat itu, dan kemudian membisikkan janji itu kepada pohon itu. Tak banyak yang tahu pasti apa khasiat, kegunaan, atau manfaat dari tindakan itu. Namun menurut cerita banyak orang di desa yang tak jauh letaknya dari tempat itu, orang-orang yang usai membisikkan janji pada pohon itu, terlihat lebih tenang dan bahagia.

Tempat itu pada dasarnya sebuah lapangan rumput yang luasnya sekira satu setengah kali lapangan sepak bola. Selepas lapangan rumput itu hanya ada pepohonan yang tak terlalu rapat. Berjarak sekira 1 kilometer ke arah lembah, di situlah terletak desa yang terdekat. Kamu mengetahui tempat itu dari kekasihmu ketika suatu hari ia mengajakmu ke sana karena ia ingin menunjukkan sebuah air terjun yang ternyata tak terlalu istimewa. Tapi sekali lagi, kamu dan kekasihmu tengah kasmaran. Perjalanan itu begitu membahagiakan bagi kalian. Bahkan dengan berlebihan, kekasihmu memegangi kedua tanganmu saat melintasi bebatuan di sungai, karena ia begitu khawatir kamu akan tergelincir.

Sikap kekasihmu yang berlebihan itulah yang membuatmu lama kelamaan akhirnya memiliki perasaan yang sama besarnya dengan kekasihmu kepadamu. Padahal kamu jelas-jelas tahu bahwa ia bukan jenis lelaki yang bisa membuatmu jatuh cinta. Ia terlalu sederhana, lugu, dan malas berpura-pura untuk terlihat modern saat berkumpul dengan teman-temannya. Kekasihmu begitu mudah ditebak, kata kebanyakan orang, itu karena sifatnya yang cenderung jujur. Karenanya ia langsung jadi pembicaraan teman-temannya ketika sikapnya berubah saat kekasihmu mulai menyadari bahwa ia mencintaimu. Di depan teman-temannya, ia yang biasanya tak pernah peduli dengan kehadiran perempuan secantik apa pun, tetiba begitu romantis memperlakukanmu. Ia memeluk bahumu saat berjalan di sebelahmu, memijat lembut leher belakangmu dan pundakmu, dan selalu mencuri-curi mengecup ujung kepalamu, meski pada akhirnya beberapa temannya akan mengetahuinya. Dan yang lebih membuat teman-teman kekasihmu takjub adalah ia selalu membukakan pintu mobil untukmu. Ia memberimu banyak perhatian yang tak terperi. Setiap pagi engkau akan terbangun penuh senyum ketika melihat ucapan kekasihmu di pesan yang muncul di ponselmu. “Jangan lupa untuk bahagia, Sayang.”

Bersamanya, kau menjadi lupa seperti apa perasaan sedih, terluka, takut, cemas, tersisihkan, atau terabaikan. Karena kekasihmu selalu membuatmu bersenang-senang. Kau selalu tertawa, berseri-seri, tersenyum tersipu-sipu, dan kebahagiaan selalu memenuhi hatimu dengan utuh. Pantas saja kau begitu panik ketika malam terakhir bersama kekasihmu itu, kau mendapati tubuh kekasihmu demam dan barulah saat itu kau mengenal kecemasan. Dan ketika dua hari kemudian setelah kau berpisah dengannya – seperti biasanya perpisahan kalian yang tak terlalu kaurisaukan karena toh kalian tetap bisa berkabar di ponsel dari kota kalian masing-masing – barulah saat itu kau mendapati lubang yang menganga di hatimu meluapkan nyeri dan tangis tak berujung saat kau menyadari bahwa kekasihmu tak lagi bisa kautemui hingga kapan pun. Sejak itulah kau baru memahami apa itu sebuah kesedihan.

Berhari-hari kemudian kau melalui hidupmu dalam sebuah rekaman film berwarna sepia yang berputar dengan sendirinya di benakmu, berisi setiap kejadian yang kau alami berdua dengan kekasihmu. Dan itu membuatmu selalu berada antara ada dan tiada saat engkau di tengah kerumunan. Matamu memandang sekeliling ke arah orang-orang yang bercakap-cakap di sekitarmu, namun kau tahu bahwa kau lelah mengupayakan tubuh dan jiwamu untuk ada di antara mereka. Kau hanya ingin berada di dalam ruang kamarmu dan berusaha tidur berlama-lama karena saat terpejam itulah kau bisa kembali ke masa-masa bersama kekasihmu.

Kerinduan menjadi sangat jahanam ketika kau tahu bahwa objek yang kaurindukan tak lebih dari sebuah kemustahilan dan kesia-siaan. Berkali-kali kau sering berteriak di tengah malam, bahwa kekasihmu tak lagi ada. Ia pergi, bodoh! Harus berapa kali kau bisa sadar! Teriakmu sambil melemparkan apa saja yang bisa kau raih seketika.

Selama tujuh tahun, kau melalui setiap hari dalam rengekan dan kecengengan yang membuat orang-orang yang sebelumnya ada di sekitarmu, perlahan-lahan meninggalkanmu. Mereka tak lagi sabar menolerir sikapmu yang mulai kasar, berang, tak sabaran, dan menyebalkan. Kau tak memedulikannya. Karena kau lebih menyukai sunyi – yang mengantarkanmu dengan leluasa untuk mengenang kekasihmu, bahkan kamu mulai berimajinasi seakan-akan ia memang masih ada di dekatmu.

Tujuh tahun adalah kurun waktu yang kalian sepakati untuk melihat apakah kalian akan bisa terus bersama. Karena sebelumnya kalian sudah pernah berpisah tujuh tahun lamanya. Sebuah perpisahan yang selalu menyisakan kekecewaan mendalam pada kekasihmu, mengapa ia tidak mencarimu selama tujuh tahun sebelumnya. Dan kau hanya bisa tersenyum menenangkannya dengan mengucapkan kata-kata klise, “toh sekarang kita bersama kan? Jangan menangisi masa silam.”

Namun kemudian, setelah tujuh tahun lamanya sejak malam terakhir bersama kekasihmu itu, kau menyangkal ucapanmu sendiri. Kau meratapi masa silam. Dan atas masa silam itulah, kau mengingat tempat itu, sebuah tempat yang menurut kekasihmu adalah pintu menuju dunia yang tak lagi membuatmu sedih. Di sana, kau akan menanggalkan ingatan-ingatan tentang kedukaan. Semuanya memang konon, karena kekasihmu sendiri juga mendengar cerita tentang tempat itu secara turun-temurun dari leluhurnya. Seperti halnya mereservasi tempat, kau harus membisikkan sebuah janji di pohon penjaga tempat itu, supaya kelak kau akan bisa memasuki tempat itu.

“Apa yang membuat tempat itu ingin dituju orang-orang?” tanyamu ketika itu.
“Karena konon di malam-malam tertentu, orang-orang desa itu bisa mendengar ada suara pesta penuh kegembiraan dan keceriaan di tempat itu. Tapi saat didatangi, tempat itu kosong.”

Cerita kekasihmu itu kemudian kauingat kembali ketika semuanya tak lagi sama setelah kau tak lagi bisa menemuinya. Kini tujuh tahun telah kaulampaui, dan kemarin kau pergi ke tempat itu, berbisik di bawah pohon itu, “Aku tak pernah lupa untuk bahagia, seperti yang kauminta setiap pagi. Namun aku lupa caranya selama tujuh tahun ini. Aku sudah membuktikan bisa menunggumu selama tujuh tahun, Sayang. Dan esok aku pasti akan ingat bagaimana cara untuk bahagia.”

Kini di atas kasurmu, kau membuka sebuah kotak yang berisi kelopak-kelopak mawar kering yang merupakan sisa dua tangkai mawar merah yang diberikan kekasihmu malam itu. Kau membelai kelopak-kelopak yang rapuh itu. Tanpa suara, kau menggoreskan pisau di pergelangan tanganmu, dan membiarkan darahmu mengucur membasahi kelopak-kelopak mawar itu. Kau menatapnya penuh kebahagiaan. Mawar itu kini kembali berwarna merah. Seperti saat ketika pertama kali kekasihmu memberikannya kepadamu. Seperti saat ketika kau tahu cara untuk menjadi bahagia.

Jakarta, 1 Februari 2017
Cerpen ini ada dalam buku kumpulan cerpen “Di Dalam Hutan Entah Di Mana” diterbitkan Arkara Press

Dewi Ria Utari
Penulis fiksi, seni, dan budaya
Telah menerbitkan 4 buku: Kekasih Marionette, The Swan, Rumah Hujan, dan Di Dalam Hutan Entah Di Mana.
Ikuti media sosial dia di instagram @dewiriautari; twitter @writingria
dan FB: Dewi Ria Utari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *