Melarungkan Nestapa di Kesunyian Jeju

Hado Beach in Jeju Island

 

Jeju adalah sebuah rumah bagi mereka yang menyukai kesenyapan dan perjalanan yang melabuhkan khayali dan melanturkan mimpi.

Sebuah perencanaan telah tersusun di secarik kertas di dalam notes di genggaman tangan. Pagi di musim gugur Oktober 2015 itu belumlahdingin menyusup tulang. Masih bisa tertahankan oleh selembar mantel. Dalam hening karena keterbatasan bahasa, dimulailah perjalanan melintasi pulau seluas 1800-an kilometer itu.

Duduk di bangku belakang taksi dengan sopir yang hanya bisa berbicara Korea, saya membiarkan pikiran melantur ketika melihat jejalanan yang silih berganti memperlihatkan pinggiran pantai, tanah kosong penuh pepohonan, dan ladang-ladang jeruk yang tengah berbuah. Tak sampai sepuluh menit dari tempat saya menginap di sebuah motel kecil di daerah Hado Beach, saya tiba di Seongsan Ilchulbong, sebuah bukit yang masuk dalam daftar UNESCO World Heritage yang menjadi urutan pertama kunjungan saya ke Jeju yang hanya berlangsung dua hari.

Tiba tepat pukul sembilan pagi saat bukit itu baru dibuka, sudah tampak rombongan turis sebagian besar terdengar berbahasa Mandarin. Sehari sebelumnya, Nayun Lee, asisten kurator di Arario Museum Jeju bercerita bahwa Jeju banyak dikunjungi wisatawan dari Cina karena tidak diperlukan visa bagi mereka untuk terbang dari negaranya ke Jeju.

Sebagai situs heritage, Seongsan Ilchulbong terpelihara dengan sangat baik. Jalan setapak berundak-undah telah dibangun dengan sejumlah perhentian. Memudahkan pengunjung dari berbagai usia bisa melintasinya. Bahkan telah disediakan dua jalur pilihan. Jalur lebih landai, mengarah ke pantai memungkinkan pengunjung bisa melihat pesisir laut Jeju yang berkarang. Sementara jalur ke puncak, menuntun pendaki untuk bisa melihat lanskap kota.

Tebing Seongsan Ichulbong

 

Kontur dari bukit ini memiliki sisi menarik karena letaknya di tebing yang menghadap pantai. Bagian atas tebing masih lebat ditumbuhi pepohonan sub tropis, sementara di bagian bawah, rerumputan hijau menghampar di mana wisatawan bisa menjelajahinya dengan kuda-kuda yang disewakan. Karena letaknya yang di pinggir pantai, lebih baik memilih musim semi dan musim gugur untuk mendaki bukit ini karena udara yang sejuk tidak akan terlalu membuat berkeringat. Pendakian hingga ke puncak tak memerlukan energi berlebih karena dengan ketinggan sekitar 180 meter, hanya memerlukan waktu satu jam untuk sampai ke puncak.

Dari wilayah timur, saya memutuskan menuju ke barat untuk mengunjungi O’sulloc Tea Museum yang terletak di bagian barat Jeju. Dalam perjalanan yang memakan waktu satu jam, terpampang pemandangan pedalaman pulau ini yang meski sepi, infrastrukturnya telah terbangun rapi. Melintasi jalanan yang mulus, tampak rumah-rumah yang sebagian besar masih memiliki halaman luas yang ditumbuhi pepohonan jeruk. Oktober yang merupakan masa panen tangerin yang merupakan produk unggulan Jeju, menjadikan pemandangan yang tampak di sepanjang jalan, terkesan syahdu. Belum lagi beberapa tempat memperlihatkan keberadaan rumah adat Jeju yang beratap rumbia dengan bentuk bulat, mengingatkan pada kesamaan tipikal rumah-rumah penduduk asli di lautan Fiji dan bahkan seperti rumah adat Papua.

 

Seongsan Ichulbong

Setiba di O’sulloc Tea Museum, terlihat lanskap landai yang mengitari sebuah bangunan yang mengambil bentuk sebuah cangkir teh dengan sentuhan arsitektur modern bergaya minimalis. Dibuka untuk umum dan gratis sejak 2001, pengunjung bisa melihat seluruh lanskap dari atap gedung yang bisa dinaiki bergantian.

Di dalam museum, tersaji beraneka macam peralatan minum teh yang dipajang rapi hingga mengarah ke bagian restoran yang menyajikan makanan dan minuman dengan bahan baku teh. Di luar museum, pengunjung bisa menjelajahi kebun teh dan sebuah rumah mungil yang dijadikan gerai kosmetika Innisfree yang juga dimiliki O’Sulloc.

Jika menginginkan makan siang yang lebih otentik dank has Jeju, sebaiknya tidak menghabiskan waktu makan di O’Sulloc yang lebih banyak menyajikan hidangan modern berbahan baku teh. Dengan bahasa isyarat, saya meminta sopir untuk mengantar ke sebuah restoran lokal. Jeju memiliki andalan masakan mi, dan saya kemudian diantar ke sebuah restoran lokal yang memang menyajikan mi super lezat dengan kuah daging super kental.

Selepas makan siang, destinasi berikutnya kembali ke pinggir pantai. Sejenak melihat peta, saya memutuskan ke Jusangjeolli Cliff yang terletak di bagian selatan. Daya pikat tempat ini terletak pada hamparan batu-batu karang hitam yang bertonjolan di bibir pantai yang bisa dinikmati dari atas tebing berpagar.

Ketiga tempat ini meski berjauhan jaraknya, bisa dikunjungi dalam waktu sehari. Kondisi jalan yang mulus dan tak banyak penduduk – Jeju hanya dihuni sekitar 600 ribu orang – membuat perjalanan dari satu lokasi ke lokasi lainnya tak banyak makan waktu berjam-jam.

Meski posisi Jeju saat ini mulai banyak dijadikan destinasi wisata dan bahkan sebagian kalangan di kota besar Seoul pindah ke Jeju setelah artis populer Lee Hyori hijrah dari Seoul dan bermukim di pulau itu, Jeju tak bisa dibandingkan dengan Bali dari sisi keramaiannya. Pulau ini meski menyuguhkan keindahan pantai, lebih cocok sebagai destinasi mereka yang menyukai tempat sunyi dan tenang dengan iklim sejuk di musim semi dan gugur.

Transportasi di Jeju juga kurang memungkinkan untuk mereka yang menyukai perjalanan cepat dan ke banyak tempat. Jeju lebih nyaman dijelajahi dengan menggunakan taksi. Tak banyak bus kota yang melintas. Jalanan di sana relatif sangat sepi dan tak banyak trotoar dengan banyak tanah-tanah kosong berhutan.

Bahkan di Hado, yang begitu sunyi, halte bus tampak hanya digunakan anak sekolah atau manula. Dengan sabar mereka duduk bertekur di halte pinggir jalan raya yang kosong tak kerap dilintasi kendaraan.

Begitu pula saat menyusuri pantai Hado yang sebagian tampak dipenuhi ilalang dengan beberapa burung kuntul yang hinggap di atas air, dan sebagian lagi disambangi beberapa pemancing ikan yang berdiri di bantaran pantai di kala senja. Pemandangan sepi ini menjadikan Hado dan sebagian besar kota-kota kecil di Jeju, seperti sebuah kisah kota-kota senyap yang tak berubah oleh waktu, menunggu dalam kesabaran para pengelana dan pelamun yang mencari tempat untuk melarungkan khayalannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *