Menilai Buku dari Sampulnya itu Masih Perlu Lho

source: weheartit.com

Banyak sekali orang berkata bahwa jangan menilai buku dari sampulnya. Buat saya, tergantung dulu jenis sampulnya. Sering kali, dari sampulnya saja kita sudah bisa menilai isinya kok. Karena bagaimana pun sampul biasanya memiliki sejumlah simbol dan penanda tentang isinya.

Analogi tentang sampul dari buku ini bisa diterjemahkan untuk menilai seseorang kok. Seorang teman baru-baru ini bercerita bahwa dia didekati seorang cowok. Sampul visual dari cowok ini sangatlah menawan. Tinggi, ganteng, tegap, bermobil, penampilannya selalu rapi dan halus tutur katanya. Namun ada sisi sampul lainnya dari pria yang sadar penampilan ini. Sisi yang langsung terlihat sebenarnya namun biasanya diabaikan ketika seseorang sudah kepincut penampilannya.

Dalam beberapa kali kencan, teman saya ini bingung karena entah bagaimana ceritanya, justru malah dia yang membuka dompet dan membayar makan dan minum. Ada beberapa kondisi yang membuat teman saya ini jadi malah mentraktir, karena cowok ini biasanya cuma pesen minum yang ala kadarnya. Sementara teman saya orangnya suka banget jajan ini itu. Alhasil karena dia sendiri mendapati bahwa pesanannya sudah begitu banyak, ia nggak enak sendiri jika dia minta cowok ini membayarkan tagihan.

Soal pelitnya cowok ini tak hanya soal traktir mentraktir. Teman saya sempat merasa illfeel ketika dalam suatu acara sosial di mana komunitasnya harus berpatungan uang untuk berdonasi ke panti asuhan, ia melihat sendiri cowok yang naksir dia ini hanya mengeluarkan uang 20 ribu. Padahal tujuan tempat yang didonasikan adalah hasil dari pilihan cowok ini yang memang pinter sekali memikat banyak orang dengan kalimat-kalimat bijak dan santunnya.

Hal lainnya yang membuat illfeel, pria ini kurang sensitif untuk mau membantu teman saya dari segi hal-hal yang memerlukan kerja fisik. Contohnya ketika mereka terpaksa harus membawa mobil sendiri-sendiri saat teman saya pulang kantor, cowok ini tetap diam saja di dalam mobilnya sementara teman saya ini bersusah payah menutup pintu gerbang kantornya yang berat sebelum masuk ke mobilnya. Pria ini juga diam saja waktu teman saya ini harus membuang sampah sendiri yang berukuran cukup besar saat menutup kantornya.

Sisi-sisi perilaku ini sebenarnya juga mudah terlihat seperti halnya sisi visual seorang manusia. Kita tinggal harus peka saja untuk bisa mengumpulkan tanda-tanda perilaku yang tidak sesuai dengan prinsip hidup kita masing-masing. Mungkin ada orang yang merasa tidak masalah dengan sikap pelit atau tidak mau capek karena sudah terpesona dengan visual seseorang. Untungnya teman saya itu tidak demikian. Dia akhirnya mentegakan diri sendiri untuk menyatakan pandangannya pada cowok ini dan seperti yang sudah ia duga sebelumnya, cowok ini langsung pergi karena tak mampu mendengar kritik seseorang terhadap seseorang. Egonya telah sangat terluka oleh seseorang yang pada dasarnya menerapkan untuk sejak awal menilai sesuatu dari sampulnya.

Continue Reading